Penilaian Pendidikan Karakter

leave a comment »

Di sekolah Damar sekarang ada pendidikan karakter ‘bertema’ setiap bulannya. Tema bulan lalu adalah kemandirian dan respek. Minggu lalu dapat dua lembar form dari bu guru yang isinya adalah penilaian pendidikan karakter. Karakter kok dinilai? Sebenarnya penilaiannya ini lebih ke sejauh mana perkembangan karakter si anak yang sedang fokus ditanamkan di bulan itu sih.

Dua lembar form itu terdiri dari satu form yang diisi bu guru, dan satu form yang masih kosong agar diisi oleh orang tuanya. Alhamdulillah menurut bu guru, Damar sudah cukup mandiri dan respek. Lucunya beberapa poin yang menurut bu guru sudah menjadi kebiasaan otomatis menurut ibunya masih perlu diingatkan. Ada juga yang menurut bu guru masih perlu diingatkan menurut ibunya sudah bagus. Mungkinkah perilaku Damar di sekolah dan di rumah berbeda? Pura-pura bertanya-tanya padahal dari dulu aku dan bapak suka terkagum-kagum (kagum sama anak sendiri, uhuk) melihat Damar yang di sekolah menjadi anak yang OK banget wkwkwk.

Poin-poin di penilaian tadi sebenarnya hal-hal yang sederhana sih. Misalnya, makan sendiri, gosok gigi sendiri, menjaga diri sendiri saat bermain, dan sebagainya. Tapi memang bener, kalau dipikir-pikir hal yang kita anggap sederhana itu kalau sudah biasa tidak dilakukan ya susah untuk dijadikan kebiasaan. Misalnya, membersihkan piring dari sisa makanan, dibuang ke tempat sampah, sebelum akhirnya siap dicuci. Ini sebenarnya keluhan terselubung, huwaaaaaa si mbak masih saja tidak membuang sisa makanan ke tempat sampah. Jadinya waktu cuci piring, segala macam sisa nasi, sayur, dan lauk digelontor saja pake air ke saluran pembuangan. Malasnya, pertama itu mengundang tikus, dan kedua ga enak sama mbah dan keluarganya karena jika sampah itu tidak dimakan tikus maka akhirnya akan terbawa air dan menumpuk di depan rumah mbah :(. Gimana cara ngasi taunya ya? Sudah diterangkan alasan-alasannya (sudah berkali-kali diterangkan huhu). Sudah dikasih contoh. Tiap habis diingatkan tertib, tapi tadi baru saja ketauan terjadi lagi :(.

Nah, sebenarnya piring ga bersih itu juga kebiasaan. Aku terbiasa makan hingga piring bersih. Kecuali tulang-tulang, duri, cabe yang kebanyakan, atau bumbu-bumbu macam lengkuas, daun salam dan sebagainya lah. Tapi ternyata ada juga yang kebiasaannya adalah tidak menghabiskan makanan. Ada juga yang ‘habis’ namun meninggalkan sisa nasi yang bertebaran di seluruh permukaan piring :o. Kalau masih anak-anak bisa dikasih tahu, tapi kalau udah gede apa kebiasaan itu dapat diubah ya?

Written by sriariyani

October 14, 2012 at 9:58 pm

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: